Teruntuk diriku sosok baru yang membuka diri untuk menerima perbedaan

Panggil saja saya dede, bukan nama sebenarnya. Aku perempuan berusia 24 tahun. Awal perjumpaan dengan perbedaan dimulai sejak akhir tahun 2015.  Saat itu saya sedang menginap di rumah nenek bersama teman, paman mengajak berbincang tentang agama. Itu kali pertama aku merasa kaget dengan penjelasan dakwah yang paman sampaikan.

Beberapa bulan kemudian untuk kali kedua, pamanku meminta bertemu. Ia datang kerumahku bersama temannya. Pertemuan tersebut ia namakan dakwah untuk hijrah kejalan yang benar. Saya dan Bapak diminta untuk membuka Al-Quran dan terjemahnya sesuai yang ia minta. Ia mengatakan, “Islam kami belum sempurna karena belum bersyahadat”. Debat sengitpun terjadi antara paman dan Bapak. Menurut Paman Islam yang sempurna itu ketika sudah bersyahadat disertai saksi dari mereka, tercatat tanggal dan bersedia mengikuti kajian ilmu agama bersama mereka. Sedang menurut Bapak syahadat itu cukup diyakini dengan hati dan dilakukan dengan perbuatan.

Hasil pertemuan tersebut membuat saya menganggap paman sesat. Sedang paman menganggap saya dan bapak termasuk islam yang belum sempurna (kafir).  Menurutnya, amal ibadah yang saya lakukan seumur hidup ini sia-sia. Meskipun saya sudah rajin ibadah dan berbakti pada Orangtua. Sejak saat itulah saya marah pada Tuhan dan Paman. Saya merasa resah, dan mencari jalan untuk mengenal perbedaan. Menyibukkan diri dengan berbagai organisasi kampus dan Yayasan Sosial.

Tahun 2019 ini saya mengikuti Pelatihan Penggerak Perdamaian, diselenggarakan oleh Yayasan Satu Keadilan dan Paritas Institut. Informasi kegiatan ini saran dari teman. Pelatihan diselenggarakan selama 3 hari, pada 11-13 Oktober 2019 di Joglo Keadilan.

Saat sesi Visit ke Jemaat Ahmadiah Bogor, saya merasa bahagia. Disambut dengan hangat, disuguhi makan dan minum. Kemudian kami masuk pada sesi ruang dialog untuk mengenal Jemaat Ahmadiah secara langsung. Dalam sesi tidak ada dusta diantara kita, diskusi dipandu oleh mba Woro. Bapak Saeful selaku pemateri dari Jemaat Ahmadiah mengatakan Bahwa Ahmadiah bukanlah Agama baru tapi Ahmadiah merupakan sebuah Organisasi Islam Seperti NU dan Muhammadiyah. Sedang dilingkungan saya tinggal masih ada yang menganggap “Ahmadiah sesat”. Kemudian kami diajak berkeliling ruangan perpustakaan, dan Sholat Magrib Berjamaah.

Kunjungan tersebut membawa saya mengingat 4 tahun lalu. Dimana saat Paman menyampaikan dakwah dan meminta saya bersyahadat padanya. Ia sempat melontarkan “Anak IAIN jurusan Dakwah ko begini”. Hingga saya merasa sedih dan tersudutkan. Perbedaan membuat kami saling tersinggung, hilangnya rasa nyaman, muncul ego merasa paling benar. Hingga menciptakan jarak di keluarga besar.

Gelisah dan takut menggerogoti hari-hari saya. Pertanyaan, mengapa Tuhan mengizinkan situasi tersebut terjadi pada saya membuat saya merasa kacau.  Lalu saya mencoba menepis semua ketakutan dan kegelisahan dengan cara melawan ajakan paman untuk bersyahadat padanya. Kemudian saya membangun keberanian untuk mencari Islam itu apa?, agama itu apa?.. Segala upaya saya lakukan. Dari mulai membuka diri dengan membawa telinga dan hati kemana-mana. Saya mendatangi rumah Ibadah dan berinteraksi dengan berbagai orang yang berbeda agama. Setiap hari saya belajar menjadi pendengar yang baik bagi semua orang. T|idak memandang agama maupun orientasi seksual.

Hingga saya menemukan makna saat selesai mengikuti Pelatihan Penggerak Perdamaian, bahwa Perdamaian dalam menjalani hidup diperlukan oleh seluruh manusia. Sebelum menjadi penggerak perdamaian, berdamailah dengan diri sendir sesuai pesan Miqdad saat mengisi materi. Kemudian bukalah hati untuk menerima perbedaan Meskipun menerima perbedaan bukan hal yang mudah. Namun dengan mendidik diri sendiri menjadi sosok baru dengan menerima perbedaan membuat saya dapat berdamai dengan diri sendiri, keluarga dan berbagai perbedaan yang ada di dunia ini.

Penulis : Indah Sri Nurmala

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *