MENCARI SAHABAT di BOGOR

Jakarta, ParitasInstitute.Org — Kami di Paritas Institute memang menyukai perjumpaan-perjumpaan. Itulah kenapa kami senang menjelajah daerah-daerah di Indonesia. Hari ini bersama kawan-kawan muda di kota Bogor, kami kongkow bareng lintas agama. Dalam kongkow dan duduk bersama ini, kami sharing dan berbagi pengalaman.

Selama ini Kota Bogor sering disebut sebagai salah satu kota yang mendapat perhatian dalam isu toleransi dan keberagaman. Bahkan masuk dalam daftar kota dengan tingkat intoleransi yang tinggi. Hal ini menggelisahkan kaum muda di sana, yang tergabung dalam Formula (Forum Pemuda Lintas Agama) Bogor, sehingga mengundang Paritas Institute untuk berbagi pengalaman. Kongkow Pemuda Lintas Iman Bogor ini dilaksanakan di aula PPIB di kompleks MUI Kota Bogor.

Indonesia Raya dikumandangkan di awal kongkow oleh para pemuda lintas Iman Kota Bogor membawa gelora kecintaan pada Indonesia dengan segala keberagamannya sangat terasa.  Dalam berbagi pengalaman ini, Pdt. Penrad Siagian  dari Paritas Institute menyampaikan bahwa kesadaran persoalan intoleransi dan keterbelahan antar identitas, baik menurut agama dan etnis, mencuat sejak Pilkada DKI tahun 2017. Seorang Ahok dengan kapasitas yang tidak perlu diragukan membangun daerah pun harus kalah karena isu agama dan etnis, demikian disampaikan Direktur Paritas Institute dalam sesi kongkow tersebut.

Selanjutnya Pdt. Penrad Siagian mengemukakan alasan kenapa agama sering dijadikan alat dalam perpecahan di Indonesia. Hal ini karena agama paling mudah dikapitalisasi menjadi sebuah politik identitas. Lebih lanjut ia menjelaskan, selama ini pemahaman agama hanya berkutat pada simbol-simbol dan mengesampingkan substansi dari agama itu sendiri.

Pertemuan dan perjumpaan yang intensif pada kelompok yang berbeda merupakan cara untuk mengikis kecurigaan, sehingga ke depan proses membangun kesadaran hidup bersama ini bisa dibangun tanpa diwarnai prasangka dan kecurigaan. Hal ini ditegaskan Mohamad Miqdad, wakil direktur Paritas Institute.

Selanjutnya, ia mendesak perlunya memperluas perjumpaan dengan membangun bridging (jembatan) untuk melucuti sekat kecurigaan dalam membangun persahabatan. Jembatan ini dapat berupa apa saja, mulai dari kongkow santai, acara olah raga, kesenian, dan lainnya. Dalam pengamatan Miqdad, kegiatan-kegiatan yang bernilai ekonomi biasanya lebih mudah dijadikan jembatan. Tentu bagi kegiatan anak-anak muda, bisa lebih kreatif dalam membangun persahabatan untuk kegiatan sosial yang lebih berfaedah.

Di akhir kongkow, kawan-kawan muda lintas agama juga membagikan pengalaman keterbelahan basis identitas agama yang mereka alami. Diskriminasi dan kecenderungan mencurigai identitas yang berbeda sering mereka jumpai dalam proses interaksi selama ini. Pengalaman inilah yang mendorong  Formula ingin terus memperbesar jejaring muda lintas agama ini dengan penggerak-penggerak perdamaian yang lain. Mereka menciptakan tagline yang sepertinya menjadi mimpi mereka: “Bogor paling Toleran!”

Paritas Institute akan terus mendampingi agar mimpi mereka terwujud. Semoga!

Pewarta : Woro Wahyuningtyas 

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *