PEREMPUAN MENGGUGAT

Jauh sebelum Hanung memulai proses pembuatan film ini, kritikus sudah banyak betebaran di sosial media maupun dalam diskusi sastra. Generasi saya ke atas pasti pernah membaca, atau paling tidak tahu Novel fenomenal Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Novel pertama dari sekuel ini adalah Bumi Manusia.

Novel ini saya baca dengan susah payah, saya bukan orang yang tekun membaca kata demi kata. Pram, novelis yang hebat dalam memilih diksi, setiap kata pilihannya bernyawa. Tokoh yang lekat dalam ingatan saya adalah Sanikem, Darsam, Herman Melema, Minke, Robert Melema, Pandji Darma dan yang pasti Anelis Melema. Novel ini membuat saya membaca dua kali, dan selama dua kali pula membuat saya mewek alias bercucuran air mata. Ada nama dua perempuan yang membekas dalam diri saya, Annelis dan Sanikem yang kemudian bermetamorfosa sebagai Nyai Ontosoroh.

Saya menghormati bung Pram sang penulis Novel, sosok teguh tak terbeli. Sastrawan yang karyanya mampu menembus pasar dunia. Saya tidak pernah bertemu dengannya. Tetapi, kisahnya di Pulau Buru yang sama dengan ayah saya membawa saya membeli novel-novel karyanya.

Suatu saat, saya mendapatkan informasi nobar dan gratis. Maka dengan antusias saya bergabung. Selain karena tidak perlu membayar, saya juga penasaran ingin membuktikan banyak kritik yang pernah saya baca.

Saya masuk ke bisokop sudah agak telat, pas adegan Robert membawa Surof dan Minke makan malam di rumah keluarga Melema. Adegan di meja makan terkesan biasa. Tetapi saya langsung bisa menangkap adegan tersebut. Nyai, perempuan powerful tersebut memimpin pembicaraan di meja makan. Minke sebagai bumi putera sangat terlihat dari pakaiannya. Ah..Iqbal sang pemeran Dilan, novel dan film yang tidak pernah saya baca dan lihat. Hati kecut dan ciut, imajinasi saya pada sosok Minke jatuh terperosok.

Eh, tetapi dari plot ke plot saya menikmati film ini. Sebagai film, karya Hanung ini tidaklah buruk. Tidak seburuk yang saya bayangkan kerena sebelumnya mengkonsumsi bacaan kritik pada film ini. Hanung tidak mendowngrade nilai dalam novel ke dalam filmnya. Beberapa adegan tidak nampak di film, ini lumrah. Novel setebal itu dibuat menjadi media gerak dalam 3 jam tentu tidak cukup. Tapi beberapa point penting tidak hilang di dalamnya.

***
Saya mencatat beberapa kelebihan dalam film ini. Hanung berhasil menampilkan sosok baru, ibu Bupati Bojonegoro. Ibunya Tirto alias Minke. Seorang perempuan priyayi jawa yang mampu melakoni mikul duwur mendem jero. Perempuan priyayi yang datang kepada seorang nyai, perempuan yang dianggap rendah oleh pribumi maupun oleh bangsa Belanda. Perempuan priyayi ini membawakan baju khusus dan seragam bagi Nyai Ontosoroh, memakaikan seolah mereka kakak beradik. Simbol kesetaraan yang diperlihatkan oleh perempuan priyayi pada seorang Nyai. Perempuan priyayi ini juga menutup segala hal, dia hadir di pernikahan anaknya seorang raden dengan anak nyai. Dia hadir sendiri tanpa suaminya sang Bupati. Dia berlaku sangat elegan sebagai seorang ibu, sekaligus istri dari priyayi Jawa. Adegan ini seingat saya tidak ada dalam novel. Entahlah, mungkin saya perlu membaca kembali novel tersebut.

Waktu membaca novel, saya tidak mampu mengingat, tepatnya tidak menancap dalam ingatan saya soal trafficking, alias perdagangan manusia. Sanikem dijual oleh ayahnya kepada Herman Melema, seorang kepala pembukuan di perusahaan milik Hindia Belanda. Umurnya masih 14 tahun. Herman bukan orang yang jahat memperlakukan seorang nyai. Dari Herman, Sanikem bermetamorfosa menjadi Nyai Ontosoroh. Perempuan pribumi yang memiliki kecerdasan sekaligus belas kasih pada sesama bumi putera yang bekerja di kebun dan peternakannya. Kehidupan mereka begitu baik pada awalnya, hingga anak kandung Herman dari istri pertama di Belanda datang dan mengancamnya.

Satu hal yang bagus ditampilkan di film ini adalah mengenai kekerasan seksual. Incest, yang dilakukan Robert Melema kepada adik kandungnya, Annelis. Gambaran ini seperti gambaran hari ini, bahwa kekerasan seksual banyak terjadi dan dilakukan oleh orang terdekat korban. Annelis sang pendiam itu, yang jika dalam novel Bung Pram terlihat sangat lemah dan depresi mengalami trauma pada kekerasan seksual yang ia alami.

Saya juga mencatat kelemahan Hanung dalam film ini, yaitu soal hukum Islam dan Hukum Kolonial. Dalam novel tidak tergambar soal Islam VS Barat, tetapi dalam film ini Hanung terlalu berlebihan memperlihatkannnya. Bahwa ada ketidakadilan dalam hukum Belanda pada masyarakat pribumi iya, tapi bukan hukum Barat vs Hukum Islam. Saya jadi ingat hukum-hukum yang berlaku di Indonesia saat ini. Hukum positif di Indonesia sering harus tabrakan dengan aturan hukum Islam. Hukum yang mengatur bagi umat Islam. Tidak bisa tidak, saat itu Indonesia berada dalam koloni Hindia Belanda, maka hukum positif berlaku tanpa mengindahkan jenis hukum yang lain. Teriakan takbir juga mewarnai peradilan saat Nyai dan Minke mempertahankan harta dan juga Annelis yang telah menjadi istri Minke.

***
Sistem hukum yang masih sering bertabrakan inipun masih berlaku sampai hari ini. KUHP yang masih produk pemerintah Belanda saat ini sedang akan diperbaiki. Namun masih banyak menyisakan persoalan. Saya tidak mengkaji keseluruhannya. Saya hanya mengkaji soal delik-delik agama dan beberapa pasal soal pemerkosaan dan Zina.

Kembali ke film Bumi Manusia, secara umum Hanung berhasil membawa generasi milenial mengenal tokoh-tokoh dalam Novel bung Pram. Nilai-nilai soal Kolonialisme, Ketidakadilan bahkan rasisme masih kuat terasa dalam film ini. Salah satu kegagalan Iqbal dalam film ini adalah saat dia laku dodok dan mengumpat saat dipanggil oleh ayahnya, Bupati Bojonegoro.

Tidak semua buruk dalam film ini, jaman sudah berganti. Hanung ingin membawa aura milenial dalam film ini tanpa menghilangkan nilai-nilai yang ingin digugat dan disampaikan oleh bung Pram. Bagi yang belum nonton dan belum membaca novelnya, bacalah dan renungilah bahwa kolonialisme, ketidakadilan dan juga rasisme itu masih terjadi saat ini. Gambaran bumi manusia itu ada dalam keseharian kita. Tinggal pilih, ada dalam barisan perlawanan seperti yang dilakukan Nyai Ontosoroh dan Minke, atau menjadi bagian dari yang melakukan diskriminasi tersebut.

Dari ketinggian 37.000 kaki saya mengajak anda semua membaca novel Bumi Manusia dan melihat film besutan Hanung ini. Jika kita semua taat asas pada bung Pram, kita pasti akan berlaku adil sejak dalam pikiran, bukan sebaliknya.

, , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *