Bumi Manusia dan Generasi Milenial

Saya tahu ada banyak orang kecewa dengan film Bumi Manusia (BM) besutan Hanung Bramantyo yang sedang beredar. Termasuk saya. Kompleksitas BM sebagai teks yang membuka banyak pintu pembacaan tidak tercermin dalam film itu.

Tetapi saya tidak ingin ikut-ikutan memaki film itu. Saya malah ingin mengapresiasi apa yang dilakukan Hanung dengan segala keterbatasan, termasuk pilihannya untuk lebih komersial dan menjangkau generasi milenial “yang suka menonton Dilan dan Warkop.” Kira-kira itulah standar yang ditetapkan Hanung, seperti dikatakan saat berdiskusi di CokroTV.

Setidaknya, film Hanung membuat saya teringat lagi saat saya membaca roman BM lebih dari tiga dekade lalu. Saat itu saya baru lulus SMA, tidak mengenal nama Pramoedya Ananta Toer atau mendengar kata “Buru”. Roman itu saya pinjam dari perpustakaan paman saya yang punya koleksi karya PAT hampir lengkap. Film Hanung persis menggambarkan reaksi awal saat saya membaca BM itu, walau Annelies yang ditampilkan kurang cantik dan lincah seperti yang saya bayangkan.

Tetapi BM tidak berhenti hanya pada tataran percintaan dengan seluruh akibatnya itu. Teks BM terus mengusik saya untuk melihat proses-proses lebih besar: terbentuknya “subyek modern” di Hindia Belanda pada awal abad ke XX yang nantinya melahirkan bangsa-negara “Indonesia”, sekaligus kekecewaan dan pergulatan batin mereka melawan politik penundukan subyek lewat klasifikasi rasial ala kolonial.

Dalam roman BM, proses-proses itu tampak jelas pada Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke yang selalu ambigu antara posisi “Raden Mas” (feodal Jawa) dengan “siswa HBS” (subyek modern), maupun Sanikem yang berani meninggalkan sama sekali masa lalu dan, lewat pengasuhan kolonial tuannya, mampu menjadi Nyai Ontosoroh yang mandiri. Kita tahu, keduanya harus memendam kekecewaan berat saat sadar bahwa semua cita-cita dan impian mereka kandas saat berhadapan dengan struktur klasifikasi rasial ala kolonial. Ini menjadi titik tolak baru bagi Minke untuk akhirnya masuk sepenuhnya dalam arus pergerakan guna membongkar sistem penindasan kolonial: menjadi “Sang Pemula”!

Film Hanung cukup berhasil menggambarkan benturan tersebut. Kekecewaan pada “ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa” sangat kuat mewarnai film. Tapi, sayangnya, film itu gagal memperlihatkan proses transformasi dan penciptaan subyek modern pada diri Minke dan Nyai Ontosoroh. Boleh jadi itu karena soal akting sehingga transformasinya kurang terlihat, terutama pada Minke.

Atau, boleh jadi, BM terlalu kompleks untuk diringkas menjadi film berdurasi 3 jam. Terlalu banyak aspek yang perlu dihilangkan agar memenuhi tenggat waktu. Dan untuk soal ini saja, Hanung patut diacungi jempol. Edisi ringkas BM-nya masih cukup setia pada cerita asli.

Saya kira, jika ada kesempatan menjadikan BM dan Tetralogi Buru sebagai “mini seri”, maka kita akan punya suguhan budaya yang luar biasa, yang akan menyadarkan ulang proses kompleks “menjadi Indonesia” tanpa harus diimbuhi slogan-slogan nasionalisme militeristik yang menyebalkan itu.

Tetapi jalan terbaik menghargai PAT dan Tetralogi Buru adalah membacanya, lagi dan lagi. Sebab kekayaan roman BM, apalagi Tetralogi Buru, hanya mampu dicerap saat Anda dan saya mengunyah setiap kata yang dituliskan PAT. Pengalaman membaca itu sungguh sama sekali tidak tergantikan, entah lewat film, mini seri, maupun teater.

Karena itu: belilah BM dan Tetralogi Buru, lalu bacalah!

Penulis : Trisno. S. Sutanto 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *