SIHIR PAPUA (bagian satu)

Semasa saya kecil, saya seperti terhipnotis oleh kata Irian Jaya dan juga Papua. Saya tinggal di sebuah kampung kecil dan jauh dari kota besar. Akses informasi juga terbatas kala itu. Sihir Papua ini membawa saya pada pertanyaan di mana itu Irian Jaya. Bermodal peta Indonesia di ATLAS, bapak saya membukakannya untuk saya. Saya tidak ingat betul apa reaksi saya pada saat itu.

Waktu berlalu hingga saya menjadi dewasa. Percakapan mengenai Papua kembali saya dapati saat saya berorganisasi di GMKI, saya berinteraksi dengan kawan-kawan dari Papua. Dari mereka saya mengenal memakan pinang, yang saat pertama kali saya merasakan kepala pusing, seperti mabuk. Bicara dengan mereka menyenangkan, banyak joke-joke yang selama ini saya tahu namanya MOP Papua. Ada banyak kegetiran dalam MOP tersebut, beberapa kali saya ingat sorot mata sedih saat kawan-kawan saya dari Papua ini bercerita mengenai tanah kelahirannya.

Tibalah saya bekerja di sebuah Lembaga nirlaba di Yogyakarta, dari sana saya makin mengetahui apa itu Papua, pergumulannya dan juga sakit-sakit yang menusuk dada saat membaca artikel maupun buku yang ditulis mengenai Papua. Persentuhan Papua secara lebih dalam saya dapat dari alm. George Aditjondro, ada banyak sekali cerita dan juga tulisannya yang mencelikkan mata saya bahwa yang terjadi di Papua tidak main-main, ada upaya sistematis dilakukan untuk terus membuat Papua seolah-olah sebagai bangsa terbelakang. Tahun 2010 saya harus ke Papua untuk waktu yang lama, tidak tanggung-tanggung, saya harus ke Wamena. Daerah yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan. Ibu saya terutama mewanti-wanti untuk saya berhati-hati, imaji bahwa orang Papua adalah orang bar-bar, orang terbelakang dan kasar lekat dalam diri ibu saya. Saya hanya meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Menjadi Papua

Saya tiba di Wamena dalam situasi yang tidak baik di tahun itu. Seorang Papua terbunuh dalam insiden itu. Selama seminggu situasi mencekam. Setiap malam ada tentara datang untuk patroli. Bulan pertama di Wamena saya dan tim masih tinggal di sebuah hotel sederhana di dekat bandara Wamena. Saya tinggal bersama keluarga dari Maluku, pemilik hotel, seorang mantan anggota DPRD di Kabupaten Jaya Wijaya.

Di hotel itu ada anak laki-laki yang saya susah mengingat namanya. Dia setiap hari menyapa kami dengan ramah dan senyumnya yang khas. Anak tersebut umurnya kira-kira 18/19 tahun, saya lupa. Tetapi dia masih kelas 2 SMK. Dia praktek kerja di hotel tersebut. Keramah-tamahan dia ini ternyata khas orang Wamena. Setiap saya ke Pasar atau sekedar membeli jajanan di seputaran hotel dan bertemu dengan mereka selalu tersungging senyum manis dari mereka sembari sapaan “selamat pagi ibu”. Anak SMK tersebut masih sulit membaca, mengeja nama panjang saya saja kesulitan. Kawan dari tim saya yang di Wamena sering meminjamkan buku kepadanya, agar dia mau membaca. Tepatnya belajar membaca.

Saat waktu praktek kerja sudah selesai, tidak jarang dia menarik becak. Sambil bergembira dan berakrobat dia sering membawa becak ke tempat kami tinggal. Sekedar menawarkan apakah kami mau pergi ke pasar atau toko, atau bahkan tempat lain.

Selain padanya, saya juga selalu jatuh cinta pada anak-anak Papua. Beberapa anak-anak di sana yang rumahnya di kampung sekolah sambil menarik becak. Mereka memanfaatkan waktu senggangnya. Selain untuk makan, mereka menarik becak juga untuk bersenang-senang (sekedar membeli gorengan dari para orang Jawa ataupun Bugis) yang mangkal di pinggir jalan. Uang sewa becak seingat saya mahal, maksudnya sewa, mereka harus memberikan setoran setiap harinya pada pemilik becak. Beberapa anak saya ajak cerita kala itu mengatakan kadang pendapatan harus habis untuk setor kepada pemilik becak dan tidak bersisa sekedar untuk makan. Tetapi mereka selalu bergembira, tiba-tiba saya merindukan anak-anak Wamena. Setelah 9 tahun yang lalu, saya belum berkesempatan mengunjungi Wamena kembali.

Kisah-kisah ini masih banyak, perjumpaan dengan mama-mama dan anak-anak di kampung Wolo, Kampung Jagara, Kampung Asologloima (saya tidak yakin nama ini), Jiwika dan beberapa tempat lain membawa kenangan tersendiri. Kesederhanaan, keramahtamahan sekaligus cinta yang tulus dari mereka sangat nampak. Ada banyak rasa tertumpah selama tidur di kampung-kampung dengan mereka. Sesak di dada mendapati situasi yang sangat berbeda dengan pemandangan di kota dan kampung-kampung di Jawa. Kebutuhan paling pokok, makan dan air sering kali tidak bisa dinikmati setiap saat. Sekolah dan tempat pelayanan kesehatan hanya bangunan, tidak setiap hari mereka bisa mendapati pelayanan kesehatan yang baik. Saya mengingat bayi dalam foto yang saya sertakan dalam tulisan ini, belakangan saya tahu bahwa dia meninggal karena diare. Dia tinggal di honai Bersama mamanya dan tempat itu sangat jauh dari akses kesehatan. Saya membutuhkan waktu lebih dari 2 jam berjalan kaki untuk bisa sampai pada kampungnya. Ada banyak cerita yang akan sulit dirangkum secara singkat soal Papua dan kampung-kampung di Pegunungan Tengah ini.

Diskriminasi?

Saya harus bilang bahwa orang Papua mengalami diskriminasi. Sering kali saya sedih menjadi  bangsa Jawa, karena sebelum pergi ke Wamena saya membaca buku pemberian opa George soal penjajahan bangsa Jawa ke bangsa Papua. Penulis buku itu bilang, bukan hanya Suharto yang menjajah Papua, tetapi juga Sukarno. Mengenai ini saya ingin menuliskannya di tulisan yang lain.

Diskriminasi orang Papua ini sangat nyata di kehidupan mereka sehari-hari. Jargon bahwa Papua tanah yang kaya itu hanya berhenti pada lagu dan kalimat-kalimat retorik. Jika tanah Papua kaya, kenapa rakyatnya tidak? Bodoh, malas adalah stigma yang selalu dilekatkan pada diri mereka, sedangkan fasilitas pendidikan saja sangat menyedihkan. Orang Papua baru mendapatkan “tempat terhormat” pasca adanya UU Otonomi Khusus. Itupun otonomi yang setengah hati. Saya pernah menuliskan sebuah studi mengenai Otsus ini. Saya belum mengunggahnya di dunia maya, suatu saat saya akan lakukan agar bisa dibaca oleh lebih banyak orang.

Papua sudah terlalu lama menderita, menderita karena penjajahan yang dilakukan oleh bangsanya sendiri, Indonesia. Diakui atau tidak, disadari atau tidak. Kekerasan demi kekerasan dan kejahatan kemanusiaan sudah sangat banyak di alami oleh Papua. Hari ini, mereka mulai melawan, melawan dengan cara mereka. Melawan dengan kata rasis yang selama ini telah banyak mereka terima. Kita semua boleh tidak percaya bahwa yang terjadi beberapa hari ini adalah bentuk penghinaan pada ras tertentu, tetapi mari kita lihat dengan jernih kekerasan dan diskriminasi yang telah dialami oleh Papua.

Mereka manusia, setara dan sederajat dengan saya, perempuan bersuku bangsa Jawa. Dan saya meminta maaf kepada saudara-saudara saya yang bersuku bangsa Papua, karena suku bangsa kami telah berlaku diskriminatif dan rasis. Saya Bersama dengan Papua, untuk melawan seluruh ketidakadilan yang selama ini ada.

Penulis : Woro Wahyuningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *