Indonesia Bangsa Rasis, Mahasiswa Papua Bukan Monyet!

Pernyataan Sikap Paritas Institute

Jakarta, ParitasInstitute.Org — Sejak masa kolonial hingga menjadi bagian dari Indonesia, narasi tentang Papua adalah narasi korban yang dipenuhi dengan berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi dan rasisme. Kekerasan yang dialami dalam berbagai bentuk mulai dari kekerasan struktural, sampai kekerasan verbal hingga fisik. Mulai dari kekerasan kultural sampai kekerasan mental adalah sebagian kecil kekerasan yang dapat dinamai dalam sejarah panjang Tanah dan Orang Papua.

Masuknya Papua ke pangkuan Indonesia, ternyata tidak mengakhiri narasi kolonialisme itu dalam perjalanan sejarah bangsa Papua. Setelah menjadi bagian dari Indonesia, narasi kekerasan dan korban bagi bangsa Papua tidak juga berakhir. Terhitung sejak awal Integrasi Papua ke Indonesia, integrasi itu adalah nama lain atas kolonialisme, nama lain dari kekerasan dan nama lain dimulainya babak baru narasi korban di Papua.

Penganiayaan terhadap massa aksi mahasiswa Papua di Malang pada 15 Agustus telah mengakibatkan 23 mahasiswa Papua mengalami luka-luka . Aksi kekerasan di Malang tersebut berlanjut dengan aksi pengrusakan asrama Papua dan rasisme yang dilakukan oleh oknum anggota TNI, Polri, Pol PP dan ormas di Surabaya pada 16 Agustus 2019. Aksi kekerasan ini berujung pada penangkapan 43 mahasiswa Papua adalah bentuk diskriminasi dan rasisme yang dilakukan oleh Negara dan warga negara terhadap orang Papua. Kontras Surabaya mencatat dalam kurun waktu 2018 hingga Agustus 2019, telah terjadi 10 kali tindak kekerasan yang dialami mahasiswa Papua di Jawa Timur. Kekerasan yang terjadi tersebut adalah wujud dari diskriminasi dan rasisme Indonesia terhadap orang Papua.

Atas tindakan-tindakan kekerasan dan rasisme tersebut maka Paritas Institute menyatakan sikap :

  1. Mengecam dengan keras tindakan kekerasan dan rasisme yang dilakukan oleh aparat Negara dan warga Negara terhadap mahasiswa Papua.
  2. Menuntut Presiden atas nama Negara untuk meminta maaf kepada bangsa Papua dan memastikan tindakan kekerasan dan rasialisme ini tidak akan terulang kembali.
  3. Menuntut Kapolri untuk melakukan evaluasi dan pengusutan terhadap proses penangkapan terhadap mahasiswa Papua yang dilakukan oleh Poltabes Surabaya.
  4. Menuntut Kapolri untuk mengusut tuntas serta menindak tegas massa yang melakukan tindakan rasis dan persekusi terhadap mahasiswa Papua.
  5. Menuntut Panglima TNI untuk melakukan evaluasi dan menindak tegas aparat TNI yang melakukan tindakan berupa provokasi rasisme sehingga terjadi penyerangan ke asrama Papua di Surabaya.
  6. Menuntut kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk membuka ruang dialog berbasis kesetaraan antara Jakarta-Papua untuk memutus seluruh mata rantai kekerasan dan rasisme yang selama ini terjadi

Di tengah euphoria perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun, kami menuntut kekerasan dan rasisme kepada bangsa Papua harus segera dihentikan, karena bangsa Papua adalah bangsa yang merdeka. Tindakan kekerasan dan rasisme yang dialami orang Papua di luar tanah Papua akan menimbulkan kekerasan dan rasisme balasan terhadap orang-orang non Papua yang berada di tanah Papua. Hentikan Rasisme, Bangsa Papua bukan monyet!

Jakarta, 19 Agustus 2019

 

Direktur Paritas Institute

Penrad Siagian

(081213825450)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *