Komunitas Meme: Kegembiraan Sebagai Parodi Perlawanan

JAKARTA, ParitasInstitute.org — Fenomena munculnya secara massif meme-meme mewarnai proses kontestasi Pilpres (Pemilihan Presiden) beberapa hari terakhir ini adalah sebuah fenomena baru dalam dinamika politik kita. Berbagai meme muncul mengatasnamakan berbagai komunitas, bahkan nama-nama komunitas yang selama ini tidak pernah muncul dalam benak dan pikiran kita ikut meramaikan ruang publik media sosial kita. Bak paduan satu suara karena tanpa alto, tenor dan bas, semua meme tersebut satu suara MEMUTIHKAN GBK pada 13 April 2019, yang sebenarnya menunjuk kepada dukungan terhadap Paslon 01 JOKOWI dan Kyai Ma’ruf Amin. Uniknya, hampir semua meme-meme tersebut seakan berlomba nyeleneh dan konyol.

Lalu respons pun bermunculan terhadap gerakan meme satu suara tersebut. Tidak kurang ada kata “dungu” yg diucapkan oleh sekelompok yang mengklaim diri (mengklaim loh ya..) sebagai aktivis HAM; “lebay” cibir para pembesar golput, dan tentu saja tidak ketinggalan kelompok pendukung paslon 02, yang karena telah lebih dulu meramaikan GBK beberapa waktu lalu sampai mengklaim 7 jutaan umat yang mungkin plus makhluk astral, yang tak ingin disaingi ke astralannya.

Kalau soal kelompok ini tidak perlu lagi saya gambarkan, sebab setiap satu kata yang akan saya gambarkan maka hoax dan fitnah bisa-bisa akan bermunculan bak gelombang panas di padang pasir menyapu bersih semua kewarasan mereka.

Nah, kembali ke fenomena meme ini. Bagi saya ini adalah sebuah fenomena yang harus dibaca sebagai sebuah PERLAWANAN. Perlawanan dari apa?

Bila mencermati proses kontestasi Pemilu dan Pilpres 2019 ini, bahkan bila ditarik ke belakang, semenjak Pilkada DKI Jakarta dan yang dilanjutkan pada Pilkada serentak 2018 lalu, jelas sekali bahwa masyarakat telah ditarik dan masuk ke dalam suasana mencekam. Pemilu dan Pilpres yang merupakan proses demokrasi, yang oleh JOKOWI disebutkan sebagai sebuah pesta, karena pada proses inilah rakyat menentukan pilihannya, namun telah berubah menjadi sebuah mesin yang mereproduksi kebencian dan permusuhan di antara sesama anak bangsa. Tidak kurang teror, hate speech (ujaran kebencian), sampai hoax dan fitnah telah memenuhi ruang-ruang publik dan media sosial kita. Belum lagi vulgarnya politisasi identitas utamanya berbasis agama dijadikan alat konsolidasi oleh paslon (pasangan calon) tertentu.

Di tengah sesaknya narasi kebencian dan teror yang dibangun melalui hoax dan fitnah inilah publik membangun parodi perlawanannya. Kampanye akbar Jokowi yang akan berlangsung di GBK pada Sabtu 13 April 2019, dijadikan momentum membangun kesadaran publik, sekaligus perlawanan atas teror dan ancaman yang selama ini telah melahirkan ketakutan di tengah masyarakat.

Publik, melalui ratusan, bahkan mungkin ribuan meme yang diproduksi, dengan mengatasnamakan berbagai komunitas, sejatinya haruslah dimaknai sebagai sebuah parodi perlawanan. Melalui Parodi meme tersebut, sebenarnya publik sedang mempermainkan sedemikian rupa narasi-narasi yang selama ini terus diproduksi untuk menimbulkan ancaman, teror dan ketakutan di tengah masyarakat, sehingga semuanya itu tampak absurd.

Namun tidak sampai di situ saja, bila melihat konten meme-meme tersebut, jelas sekali bahwa KEGEMBIRAAN adalah parodi yang dipilih sebagai jalan perlawanan publik tersebut. Nyeleneh, kocak dan konyolnya meme-meme yang diproduksi adalah simbol kegembiraan yang melintasi batas, inklusif, yang menampung komunitas dan identitas apapun. Seolah fenomena Komunitas Meme tersebut adalah sebuah paduan satu suara kegembiraan menyambut pesta demokrasi serambi mengatakan: kami tidak takut.

Penulis: Penrad Siagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *