Membuka Ruang Perjumpaan, Mengikis Prasangka

JAKARTA, ParitasInstitute.org—Surabaya, kota yang membuat kita terkejut ketika pertengahan tahun ini dengan adanya bom bunuh diri di beberapa gereja. Peristiwa itu menjadi salah satu dasar bagi Paritas Institute terpanggil untuk melakukan lokakarya dan training penggerak perdamaian di kota Pahlawan ini. Bersama dengan Jaringan Gusdurian Suroboyo dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sukolilo, pekerjaan bersama ini bisa terlaksana karena kerja jejaring di tingkat Surabaya antara lain Matakin Jawa Timur dan FIF Cabang Surabaya bahu membahu dan menopang kegiatan ini.

Surabaya adalah kota ke-4 dilaksanakannya Lokakarya dan training penggerak perdamaian yang Paritas Institute selenggarakan. Salah satu alasan pemilihan Surabaya adalah momentum bom bunuh diri di berbagai gereja di Surabaya.

Lokakarya dan training akan dilaksanakan selama 4 hari, 13-16 November 2018 di mana dalam satu harinya seluruh peserta akan diajak untuk melakukan exposure ke berbagai rumah ibadah dan komunitas keagamaan di Surabaya. Pembukaan lokakarya dilaksanakan di pendopo GKJW Jemaat Sukolilo oleh Pdt. Penrad Siagian selaku direktur Paritas Institute yang sebelumnya diawali dengan sambutan dari tuan nyonya rumah panita yaitu Jaringan Gusdurian Surabaya, Majelis Jemaat GKJW Sukolilo dan Matakin Jawa Timur. Ibu Diaken Gretha. sebagai perwakilan GKJW Sukolilo menyampaikan pihak MJ GKJW Sukolilo berterima kasih karena kesempatan menjadi tuan nyonya rumah kegiatan ini, selanjutnya ia menyampaikan bahwa jika fasilitas kurang mencukupi kegiatan ini, pihak majelis jemaat memohon maaf atasnya.

 

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh ibu Lanny, pengurus Matakin Jawa Timur. Matakin sangat bersyukur bisa berkontribusi pada kegiatan ini sekali gus mohon maaf karena tidak ada peserta dari kaum muda konghucu. Hal ini dikarena karena kesibukan pekerjaan para orang muda Khonghucu.

Pdt. Penrad Siagian dalam sambutan sekaligus membuka Lokakarya dan training penggerak perdamaian yang dilakukan oleh Paritas Insitute sebagai bagian membuka ruang-ruang perjumapaan pada anak-anak muda yang merupakan masa depan bangsa. Menurutnya, jika mencermati bangunan  sosial kehidupan bermasyarakat kita, tingkat segregasi telah sangat tinggi. Anak-anak muda saat ini hidup dalam segregasi-segregasi dan pengkotak-kotakan kehidupan sosialnya. Paritas Institue mendapati dalam training yang dilakukan, anak-anak muda ini dalam kesehariannya tidak pernah berinteraksi dengan yang berbeda dengannya teritama yang berbeda agamanya, baik di sekolah, di pertemanan dan bahkan dalam pertemanan di media sosial.

Menurut Pdt. Penrad Siagian, bila hal ini dibiarkan, anak-anak muda ini tidak akan memiliki pengenalan tentang ke Indonesiaan yang sesungguhnya, tidak mengenal tentang kelompok-kelompok masyarakat lain yang berbeda dengannya. Generasi seperti ini akan sangat rentan untuk di eksploitasi dan dikapitalisasi untuk kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dengan menebar kebencian dan prasangka terhadap yang lain. Pdt. Penrad mengemukakan bahwa beberapa anak-anak muda ini tidak jarang  mendapatkan pengetahuan dan pengenalan tentang kelompok-kelompok yang berbeda dengannya hanya dari media yang tidak jarang juga berisi hoax. Literasi digital mereka sangat terbatas, sehingga sangat mudah dicekoki dengan prasangkan negative terhadap kelompok yang berbeda. Maka, salah satu tujuan dari Parits Institute melaksanakan lokakarya dan training penggerak Perdamian adalah ruang perjumpaan untuk saling mengenal satu dengan yang lain secara langsung, dan menjadi tempat pembelajaran bersama untuk membangun damai sebagai sesama anak bangsa apapun latar belakangnya.

Kontributor : Woro Wahyuningtyas

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *