Tiga Tempat Yang Membahagiakan

Hari kedua Lokakarya dan Training yang dilaksanakan oleh Paritas Institute “Penggerak Perdamaian” di Monako Park Sibiru-biru Deli Serdang telah berlalu. Tibalah kami pada sesi “mengalami perjumpaan”.

Di hari ketiga kegiatan, kami diajak berkeliling ke berbagai tempat ibadah. Tujuannya agar dapat saling mengenal antar umat beragama secara langsung, berjumpa, bertanya dan mengalami sendiri. Kami memulai kegiatan kunjungan dengan menemui ibu Melliana di Lapas Wanita Tanjung Gusta, Medan. Kunjungan ini adalah bentuk rasa solidaritas dan toleransi atas kasus yang beliau alami. Isu penodaan Agama dituduhkan padanya. Dalam kesempatan itu, saya selalu pribadi, dan bila tidak bisa mewakili umat Islam memohon maaf darinya atas kasus tersebut. Ibu Meliana tersenyum dan mengatakan bahwa dia telah lama memaafkan, saya bisa melihat dari mimik mukanya, dari matanya bahwa dia tulus memaafkan para pelaku yang menyebabkan dia harus tinggal dalam penjara selama 18 bulan.

Dari Lapas kami langsung menuju ke Vihara Terapada, Vihara besar yang ada di Medan. Bagi saya pribadi hal ini adalah pengalaman pertama masuk ke rumah ibadah agama lain.

Sesampainya di sana kami langsung di sambut ramah oleh Bhante Dhinapuro dan pengurus pengurus Vihara. Makan siang sudah menunggu kami, kami disuguhi makanan Vegetarian untuk makan siang. Kami makan bersama dengan seluruh peserta, fasilitator dan pengurus vihara. Selagi makan, beberapa peserta asyik mengelilingi bante dan berdiskusi.

Setelah makan siang kami diberi buku sebagai bentuk oleh-oleh dari pengurus vihara, buku berjudul “perjalanan hidup Budha”. Buku ini adalah buku yang dari dulu saya cari, alhamdulillah dapat di vihara tanpa membayar alias gratis lagi.

Bhante lalu mengajak berkeliling dan menjelaskan maksud dari simbol-simbol yang ada pada Vihara sekaligus menjelaskan konsep dari agama Budha itu sendiri.
Lalu saat semua peserta training dan tamu diajak masuk keruangan Meditasi, tibalah waktu dzuhur. Saya terus terang kebingungan mau sholat di mana karena bagi saya tak ada yang lebih penting dalam hidup selain sholat dan ketaatan beragama.

Akhirnya saya coba keluar ruangan dan bertanya kepada salah satu penjaga gerbang vihara di mana letak mesjid terdekat. Ternyata lokasi masjid sangat jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki.
Alhamdulillah, Allah memberikan jalan melalui pengurus vihara yang bagi saya sangat luar biasa. Beliau mempersilakan bahkan menyiapkan tempat sholat bagi sya di rumah Bikhsu yang ada di kompleks vihara tersebut . Saya kemudian sholat di depan patung Budha, bagi saya ini adalah suatu bentuk toleransi yang nyata. Jika selama 2 hari ini kami pelajari teori toleransi, saat ini saya sedang merasakan indahnya toleransi.

Kunjungan selanjutnya kami ke msajid bengkok, masjid lama yang penuh dengan sejarah toleransinya. Masjid ini dibangun di lingkungan Thionghoa dan merupakan masjid yang dibangun oleh seorang Thionghoa. Saat kami tiba adalah watu sholat ashar, dan saya sholat ashar di sana. Kami sempat berziarah ke salah satu kubur Bilal pertama Syech Muhammad Yusuf.

Selesai berziarah sahabat-sahabat non muslim banyak yang bertanya tentang yang saya lakukan saat ziarah. Lalu saya menjelaskan segala hal mengenai ziarah kubur , baik maksud dan tujuan serta cara-caranya.

Jadwal kunjungan terakhir adalah Gereja Bethel Indonesia di daerah Sunggal. Walaupun suasana dingin menyelimuti karena kondisi hujan pada saat itu, namun rasa itu hilang karena kedatangan kami disambut dengan hangat oleh pengurus gereja.

Pukul 18.15 Wib kami sampai di sana dan lagi-lagi saya bingung karena waktu tersebut jadwal sholat magrib.Saya pura-pura berjalan keluar menuju kamar mandi sambil melihat situasi di luar adakah ada masjid terdekat. Yang ada di benak saya kalau tadi saya sholat zuhur di wilayah Vihara karena ada rumah Bikhu, berbeda dengan kondisi saat ini yang memang berada di gereja tempat ibadah umat Nasrani dan jauh dari rumah pendeta.

Karena kebingungan, saya memberanikan diri untuk meminta izin sholat di pojok sebelum ruang kamar mandi, ternyata setelah saya meminta ijin, pengurus gereja malah mempersiapkan tempat sholat di lantai atas gereja,suatu tempat yang sangat bagus dan luas yang biasa dipakai sebagai latihan lagu-lagu pujian.

Selesai sholat saya langsung bergabung dengan teman-teman yang lain mendengarkan pengurus gereja Bethel menerangkan tentang sejarah dan cara beribadah umat di gereja Bethel ini.

Inilah pengalaman luar biasa yang saya rasakan selama satu hari yang mungkin tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Tiga tempat indah dan membahagiakan, tempat di mana saya bisa menjalankan sholat wajib.

Penulis : Muhamad HasbiĀ 

Editor : Woro Wahyuningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *