Penggerak bukan Penggertak

MEDAN, ParitasInstitute.org — Menjadi orang muda itu memiliki semangat dalam menggerakkan, bukan menjadi penggertak satu dengan yang lain. Penggalan kalimat ini disampaikan oleh Bhikkhu Dhirapunno, rohaniawan Budha yang menulis sebuah buku berjudul “Kopi Toleransi”.

Training Penggerak Perdamaian di Medan, yang menjadi kota ke-3 yang dilakukan oleh Paritas Institute dibuka dengan panel diskusi sharing kerja-kerja perdamaian oleh beberapa penggerak perdamaian di Medan dan atau Sumatera Utara pada umumnya. Sesi berbagi pengalaman lokal ini dilaksanakan pada 6 November 2018 di Monaco Park

Bhikkhu Dhirapunno, seorang lelaki kelahiran Jawa Tengah mencoba meramu kerja-kerja perdamaian melalui kopi, tidak sekedar filosofi kopi, tapi spiritualitas kopi yang bahkan didokumentasikan dalam sebuah buku sederhana nan syarat nuansa kerukunan dan perdamaian. Melalui kopi, Bhikkhu terus berjalan menggerakkan anak-anak muda untuk perdamaian. Hal menggelitik yang disampaikan oleh Bhikkhu antara lain dalam menjaga kerukunan adalah jika dalam ayat-ayat agama tidak mendamaikan, maka katanya mari kita memilih ayat-ayat cinta. Selanjutnya Bhikkhu mengatakan bahwa untuk bisa menghargai agama orang lain, maka kita harus bisa menghargai agama lain. Bhikkhu menjelaskan kenapa menggunakan terminologi kopi toleransi, karena sudah bosan dengan hotel bintang 6. Menurutnya, bicara toleransi harus membumi, harus bergerak, harus bertemu bahkan sampai pada kelompok-kelompok kecil, sembari minum kopi.

Sharing selajutan dari seorang penggerak perdamaian di Medan adalah Mohamad Idris dari Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Sebagai orang Jawa yang harus “bertugas” di tanah Batak, pak Idris tidak mengalami kesulitan. Pengalamannya di Fanuatu, Kepulauan Fijji membuatnya menjadi seorang penggerak pedamaian yang tangguh. Kepulauan di Laut Pasifik menjadi tempat menempanya selama 8 tahun. Menjadi kelompok “sangat kecil” dan pendatang, ustad Idris mengisahkan sebuah pengalaman saat melakukan kerja-kerja perdamaian dengan bersilahturahmi dengan para pimpimpin agama dan adat di Fanuatu. Suatu ketika saat bertamu, adalah jam makan siang. Ustad Idris sempat khawatir karena makanan yang lazim di makan oleh orang Fanuatu adalah daging babi. “Ada perasaan bersalah saat nanti menolak, tetapi saya juga harus menjaga akidah saya” katanya menceritakan pengalamannya itu. Tetapi Ustad Idris ingat, bahwa orang Fanuatu adalah orang yang sangat menjunjung tinggi persoalan adat. Pada akhirnya atas alasan adat, maka tuan rumah pun megerti bahwa secara adat banyak orang di Indonesia tidak mengkonsumsi daging babi.

Menjadi penggerak perdamaian, menurut ustadI Idris tidak bisa dilepaskan dari kearifan lokal, alias peran adat istiadat setempat. Di akhir penutup paparannya, ustad Idris mengatakan bahwa menjadi seorang Muslim haruslah menjadi duta-duta cinta kasih.

 

Pewarta : Woro Wahyuningtyas

Editor : Boy Tonggor Siahaan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *