Menjaga Kota, Menggerakkan Perdamaian

Medan-ParitasInstitute.org _Paritas Institute kembali melaksanakan lokakarya dan training penggerak perdamaian di Monaco Park Sibiru-Biru pada tanggal 6-9 November 2018 untuk ke-3 kalinya di tahun 2018. Medan menjadi kota ketiga pada tahun 2018 ini. Pemilihan kota Medan bukan tanpa alasan, Medan yang di tahun 2018 mendapatkan “tantangan” dalam hidup keberagamaan di Sumatera Utara. Masih lekat ingatan kita bagaimana sosok perempuan bernama Meliana mendapatkan perundungan, jika tidak mau disebut kekerasan dan mengais keadilan atas kejadian yang ada di Tanjung Balai. Begitu juga demo penutupan warung BPK (Babi Panggang Karo) di wilayah Lubuk Pakam serta mengerasnya politik identitas dalam Pilkada Sumatera Utara bulan Juli yang lalu.  Beberapa kejadian intoleransi tersebut menjadi salah satu dasar Paritas Institute bergerak membangun komunitas-komunitas penggerak perdamaian di Medan.

Dalam sambutannya Direktur Paritas Institute, Pdt. Penrad Siagian menjelaskan bahwa situasi intoleransi yang terjadi di Indonesia, berdasarkan data-data dan survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga menjadi alasan kuat Paritas Institute untuk terus melakukan perjumpaan antar kelompok agama terutama anak muda agar bisa terus menjadi motor penggerak perdamaian di wilayahnya masing-masing. Dalam tahun 2018 ini, setelah di Medan Paritas Institute masih akan melakukan di 2 kota lain yaitu Surabaya dan Palangkaraya.


Dalam pengantar pembukaannya, Pdt. Penrad Siagain juga menyatakan bahwa di tengah propaganda dan arus politik identitas dan trend conservative Turn keberagamaa kita, membuka ruang-ruang perjumpaan adalah sebuah keniscayaan. Perjumpaan adalah ruang untuk memulai kesadaran kebhinnekaan sebagai kodrat dan realitas ke-Indonesiaan. Ruang untuk mengenal dan belajar yg akhirnya dapat menerima perbedaan sebagai sesama dan saudara yg setara. Tanpa perjumpaaan yang ada hanyalah kecurigaan dan prasangka. Training Penggerak Perdamaian, Monako Park Sibiru-biru, 6-9 November 2018, adalah usaha merajut perjumpaan-perjumpaan sesama anak bangsa, sehingga damai adalah pilihan bersama bagi Indonesia Tercinta.

Tugas peserta lokakarya dan training tentu tidak mudah ke depan, tetapi mereka akan terus dijejaringkan dengan kelompok lain di setiap kota untuk menjadi bagian tidak terpisah untuk menjaga kota dan terus menggerakkan perdamaian. Demikian Pdt. Penrad mengatakan dalam mengakhiri sambutanya.

Pdt. Darwis Manurung, Ketua PGI Wilayah Sumatera Utara mengatakan bahwa toleransi akan terbangun jika setiap golongan mampu menahan dri dan melakukan instropeksi agar tercipta kerukunan. Dalam sambutan dan pengantarnya, Bishop Manurung mengatakan sebenarnya Sumatera Utara adalah provinsi yang menjadi indikator situasi di Indonesia, atau banyak yang menyebut Sumatera Utara adalah Indonesia mini. Karena di Medan berbagai suku bangsa dan agama hidup dan berkembang sejak dulu kala.

Lebih lanjut Bishop Manurung mengatakan bahwa Sumatera Utara memiliki kekuatan, yang pertama yaitu sistem kekerabatan yang disebut dalihan natolu (tungku nan tiga) yang merupakan kearfian lokal bagi Sumatera Utara, lalu yang kedua adalah kedewasaan tokoh agama yang lebih moderat. Karena tokoh agama mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan keberagaman. Walaupun banyak juga tantangan hidup keberagaman di Medan dan sumatera Utara khususnya, antara lain jumlah penduduk yang besar, kemajemukan dalam etnis, suku, budaya dan agama, tingkat pendidikan yang relatif rendah, adanya aliran sempalan serta bergesernya nilai agama dan budaya oleh pengaruh teknologi. Tetapi kekuatan yang dimiliki oleh Sumatera Utara hendaknya menjadi dasar kita semua bisa semakin menggerakkan perdamaian untuk menjaga kehidupan yang rukun di Sumatera Utara secara umum dan Kota Medan secara khusus.

Sebelum membuka kegiatan secara resmi, Bishop Manurung mengutip Mazmur 133: 1-3 yang bisa dijadikan landasan bagi kerja-kerja perdamaian di Sumatera Utara “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *