HUT 70 Tahun GPIB: Memaknai ulang Spiritualitas Damai

JAKARTA, ParitasInstitute.org — Dalam rangka merayakan HUT 70 tahun karya pelayanan GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat), Musyawarah Pelayanan Jakarta Timur menggelar Seminar Damai pada Sabtu (6/10/2018) di GPIB Jemaat Horeb, Jakarta Timur. Hadir dalam seminar tersebut sebagai narasumber adalah KH. Prof. Dr. A. Syafii Mufid selaku ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi DKI Jakarta, Pdt. Abraham Silo Wilar, Ph.D dari Departemen GERMASA GPIB dan Pdt. Penrad Siagian, M.Si sebagai Direktur Paritas Institute.

Seminar sesi pertama mengenai Spiritualitas Damai yang menghadirkan ketiga pembicara tersebut melahirkan diskusi konstruktif di antara peserta seminar.

Dalam paparannya, Pdt. Penrad Siagian menyampaikan bahwa Damai dalam konteks Indonesia lahir dari pengalaman keberimanan dan kontekstualisasi dari agama-agama yang ada. Spiritualitas dan aktivisme perdamaian di Indonesia menjadi istimewa dan beda dalam segala kemajemukannya. Karena itu, spiritualitas Damai di Indoneaia akan beda dengan negara-negara yang homogen.

Menurutnya, dalam kemajemukan sangat lumrah terjadi potensi konflik tinggi dan hal ini harus disadari oleh seluruh warga bangsa di Indonesia. Pdt. Penrad juga menyampaikan bahwa dalam konteks Indonesia, hal-hal yang sering menjadi pemicu kejadian konflik ada 3 hal, antara lain:

Pdt. Emmanuel Raintung dari GPIB memberi sambutan.

Pertama, kecenderungan beragama yang mengarah pada conservative turn. Lebih lanjut ia menjelaskan munculnya simbol-simbol agama di ruang publik yang selanjutnya menyebabkan terjadinya kontestasi simbol dalam penguasaan ruang publik yang kemudian akan menjadi semakin eksklusif dan pada akhirnya radikalisme agama-agama akan meningkat, dan ini terjadi di hampir semua agama di Indonesia.

Kedua, faktornya adalah penguatan politik identitas. Dalam uraiannya lebih lanjut, kapitalisasi identitas berbasis agama berkontestasi di semua ruang, baik formal maupun non formal. Sebagai contoh, ia menyebutkan pasca orde baru bermunculan politik identitas yang sangat bebas dalam bentuk kapitalisasi oleh kelompok tertentu. Kapitalisasi politik identitas ini akan melahirkan ujaran kebencian berbasis agama dan seringkali agama dijadikan alat politik oleh sekelompok orang.

Ketiga, Direktur Paritas Institute ini mengatakan bahwa pengelolaan hidup bernegara atau problem kenegaraan menjadi salah satu dari tiga faktor yang bisa memicu konflik. Sebagai contoh, dia mengatakan mengenai regulasi yang diskriminatif dan sering menjadi pemicu konflik. Selain itu, ketidaktegasan Negara yang takluk dengan tekanan massa menjadi faktor lain yang menimbulkan konflik.

Sebenarnya, sifat alami agama adalah mengusahakan hidup damai dan mengembangkan cinta kasih, launjutnya. Walaupun di dalamnya agama ada juga unsur kekerasan, maka masih menurut Pdt. Penrad Siagian agama harus terus ditafsir dalam segala konteks, terutama dalam konteks keberagaman di Indonesia.

Sebagai akhir, Pdt. Penrad Siagian menyampaikan bahwa membangun spiritualitas damai membutuhkan perjumpaan dengan yang lain sebagai ruang menguji makna dan horizon perdamaian itu sendiri. Jadi spritualitas yang terbangun adalah spiritualitas yang hidup, yang tidak sekedar bangunan naratif dan teori tanpa aktivisme. Teologi atau apapun namanya, yang dibangun tanpa perjumpaan adalah kenaifan atas perdamaian.

Pewarta: Wahyuningtyas Woro
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *