Kegilaan dan Biadabnya budaya Massa Kita. Habitus Budaya Kekerasan dan Premanisme

JAKARTA, ParitasInsitute.org — Peristiwa tewasnya suporter Jackmania yang di bantai oleh massa Bobotoh Persib Bandung di seputaran GBLA adalah wajah budaya massa Indonesia. Dua kata: Biadab dan Gila adalah kata yang sepadan menggambarkan massa tersebut. Fenomena Kegilaan dan kebiadaban yang bagi saya sudah cukup sebagai bukti untuk meruntuhkan klaim yang pernah disematkan pada bangsa ini sebagai bangsa yang beradab. Atau paling tidak bangsa ini sedang menuju dan mengalami degradasi kebudayaan menuju kebiadaban dan kegilaan sosial.

Peristiwa yang menewaskan Haringga seorang Jackmania, adalah wajah simbolik dari keseluruhan realitas sosial kita saat ini. Apalagi santer terdengar dalam video terlihat beberapa pelaku yang berzikir La ilaha ilallah, yang artinya tiada tuhan selain allah sembari membantai Haringga. Maka lengkaplah sudah tak terkecuali agama menjadi pelengkap keseluruhan realitas sosial massa itu yang semakin terjerembab dalam kebiadaban dan kegilaan.

Bila bercermin pada Sosiolog Prancis Pierre Bourdie tentang HABITUS dalam membaca realitas sosial di atas, jelaslah bahwa fenomena tersebut bukanlah sekedar tampilan dari fanatisme atas sebuah klub sepak bola saja. Habitus terbentuk melalui proses kultural atau pengalaman sosial pada diri para individu, yang pada akhirnya mengarahkan perilaku para individu itu.

Habitus menentukan aneka watak atau sifat yang tertanam, tersusun, berlangsung lama dan diwariskan dalam sebuah proses sosial. Habitus bersifat mengarahkan ke sesuatu tujuan tanpa disertai keraguan. Habitus bisa bergerak tanpa aktif diajarkan.

Habitus adalah produk akhir dari aneka struktur yang cenderung dihasilkan melalui berbagai praktik dengan cara tertentu yang membuat para individu yang melakukannya terikat untuk terus mereproduksi praktik-praktik itu, baik dengan sadar menemukan kembali bentuk praktik itu, atau di alam bawah sadar meniru berbagai cara yang telah diterima.

Dengan kata lain, kebiadaban dan kegilaan yang diperlihatkan melalui peristiwa amuk massa di GBLA adalah sebuah praktik sosial yang telah menjadi habitus sosiologis kita. Sebuah budaya kekerasan dan premanisme yang telah menjadi habitus keseharian kita pada level individu hingga massa yang berpraktik dan bereproduksi dihampir keseluruhan ruang kehidupan berbangsa, bernegara, dalam ruang-ruang relasi formal non formal dalam struktur-struktur sosial dan kelembagaan kita. Lihat saja contohnya yang juga ditampilkan oleh Edy Rahmayadi, Gubernur Sumatera Utara yang sekaligus menjabat Ketum PSSI saat ditanya presenter KOMPAS. Kekerasan verbal dan premanisme juga gamblang diperlihatkan dengan jawaban: “Apa urusan anda menanyakan itu…” Sebuah jawaban tak beradab di tengah jabatan publik yang di sandangnya.

Sementara itu, soal umat ber-agama yang kian tak beradab juga sudah menjadi hal yang banal dalam pengalaman keseharian kita dalam relasi sosial. Beragam bentuk kekerasan yang menjadi gambaran ketakberadaban bahkan kegilaan sering tampil vulgar mengatas namakan agama di ruang-ruang publik kita.

Ala bisa karena biasa seperti kata pepatah, kegilaan dan biadabnya budaya massa kita adalah sebuah proses budaya kekerasan dan premanisme yang telah menjadi habitus dalam keseharian di hampir semua ruang sosial kita dan ironisnya agama sering dipakai menjadi alat legitimasi sehingga sakrallah kegilaan dan kebiadaban tersebut.

#Allahualam

Penulis: Penrad Siagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *