Kisah Trinity yang Mengharukan, Gadis Kecil Korban Bom Samarinda – Kepakkan Sayapmu My Little Angel

JAKARTA, ParitasInstitute.org — Peristiwa Bom Samarinda tidak dapat kita lupakan untuk menegaskan bahwa kita menolak aksi teror dan anti toleransi yang merugikan semua pihak. Ada kisah mengharukan di balik peristiwa tersebut yang diceritakan Birgaldo Sinaga, yaitu: Trinity, gadis kecil korban Bom Samarinda. Kami hadirkan kisah tersebut di rubrik: Berbagi Kisah dan Kasih, agar pembaca dapat berbagi berkat dan doa.

Kisah ini kami peroleh dari pesan WhatsApp (WA) yang sudah menyebar luas. Kisah Trinity yang dicertakan Birgaldo Sinaga ini secara substansial tidak kami ubah isinya, hanya diperbaiki tatabahasa tulisannya yang sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia. Selamat membaca.


 

Trinity Korban Bom Samarinda
Kepakkan Sayapmu My Little Angel

 

Gadis kecil berusia 4 tahun korban bom molotov Samarinda dua tahun yang lalu itu menggelayut manja dipelukan ayahnya. Ia menggelendot tidak ingin berpisah. Ayahnya membelai rambutnya, memeluknya, dan membisikkan sesuatu. “Anakku sayang, baik-baik kamu ya nak di China. Rajin berdoa biar Tuhan jagai kamu nak,” bisik ayah gadis kecil itu di telinga Trinity.

Trinity memeluk erat leher ayahnya. Ia tidak mau melepaskannya dan terdengar suara lirih sesunggukan dari bibir mungil Trinity. “Doakan juga aku ya bapak. Bapak juga rajin berdoa di sana. Biar Tuhan juga lindungi bapak,” lirih Trinity sambil mendekap erat ayahnya.

Gibson, ayah Trinity, tidak kuasa menahan haru. Ia berusaha tegar. Ia tidak ingin terlihat cengeng di depan putrinya.

“Iya sayang. Bapak akan doakan kamu terus. Bapak tidak bisa temani kamu di China, tetapi bapak akan doakan kamu selalu ya,” ucap Gibson dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

(Berikut cerita [flash back story] ketika terjadi Bom Samarinda, Redaksi)

Minggu malam, 21 November 2016, telepon kamar barak tempat tinggal Gibson berdering. Gibson dan para pekerja tambang di satu provinsi Laos tinggal di barak pertambangan emas.

“Bro.. Ada kabar buruk. Putrimu kena bom molotov. Lagi ramai di televisi”, ucap Andri gugup dari balik telepon.

Sontak ayah Trinity menjerit. Dadanya bergetar hebat. Air matanya tidak kuasa dibendungnya. “Apa yang terjadi pada anakku?” jeritnya memecah ruangan.

Minggu pagi, 21 November 2016, Intan Olivia (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro (4), dan Trinity (3) asyik bermain di halaman depan Gereja Oikumene Samarinda. Mereka baru saja selesai Sekolah Minggu. Ayah dan ibu mereka sedang Kebaktian Minggu. Mereka anak-anak kecil di luar asyik bernyanyi dan bermain.

Saat mereka bermain, seorang laki-laki dewasa berkaos oblong hitam masuk gereja. Dia membawa tas punggung. Anak-anak kecil itu memandang laki-laki tersebut.

Mereka dengan kepolosannya tertawa riang tidak begitu peduli dengan kedatangan laki-laki berwajah dingin itu. Anak-anak kecil itu melanjutkan permainan mereka. Mereka tidak tahu sebentar lagi api akan melahap mereka. Mereka tidak tahu sedetik lagi laki-laki itu akan melemparkan bom api molotov.

Setelah tiba waktunya, laki-laki itu lalu menarik nafas dalam. Ia melihat anak-anak kecil itu sebagai target untuk dihabisi. Ia melihat kegembiraan anak-anak kecil itu harus dihentikan. Keriangan anak-anak kecil itu tidak boleh ada. Ia mendengus.

Lalu, ia melepas tas punggungnya dan mengeluarkan sumbu lalu mengambil korek api. Ia membakar sumbu tas punggung itu. Setelah sumbu terbakar, dengan sekuat tenaga laki-laki itu melempar tas berisi bensin dengan nyala api.

Brakkkk..bummm… Tas punggung berisi bensin dan berapi itu menghantam kerumunan anak-anak kecil itu.

Api membumbung tinggi. Asap hitam mengepul. Laki-laki berkaos oblong itu tersenyum lalu lari kencang menjauh dari halaman gereja itu.

Intan Olivia bocah berumur 2.5 tahun itu menjerit tangis. Api membakar sekujur wajah dan tubuhnya. Intan berguling guling menangis memanggil nama mamanya. “Ma…mamak..makkkk..panas makkk..sakittt makkkk…”, teriaknya perih. Sekujur badannya melepuh, mengalami luka bakar cukup serius.

Teman-teman Intan lainnya Anita, Alvaro dan Trinity juga menjerit menangis. Api menyambar tubuh mungil mereka. Membakar baju mereka. Keempat bocah malang itu berlari berguling-guling mencoba memadamkan api yang melahap tubuh mungil mereka.

Suasana gereja yang damai teduh berubah menjadi gaduh. Teriakan pilu perih anak anak Sekolah Minggu, Intan Olivia, Anita, Alvaro, dan Trinity membuat seisi gereja panik.

Para orangtua berhamburan keluar. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit histeris melihat anak-anak mereka meraung-raung terbakar.

Berguling-guling menahan panas membakar kulit dan dagingnya. Para orangtua itu berusaha memadamkan api. Sebagian berteriak histeris melihat anaknya dilalap api.

Kulit Trinity terbakar 70%. Wajahnya gosong melepuh. Badan, paha, kaki, dan tangannya juga melepuh terkena api bom. Ia sekarat di rumah sakit. Tubuh mungilnya menahan perih luka bakar yang memilukan.

“Saya baru bisa pulang keesokan harinya lae. Pulang karena izin emergency,” ujar ayah Trinity melalui chat sebelum mengantar Trinity ke pesawat.

“Dari lokasi tambang sekitar 5 jam naik mobil ke Bandara Laos. Transit di Bangkok dan menuju ke Jakarta. Di Jakarta menginap semalam. Esoknya ke Balikpapan. Dari Balikpapan naik mobil ke Samarinda,” cerita Gibson.

Gibson mengingat masa-masa yang paling berat saat sepanjang perjalanan menuju rumah sebagai masa yang paling menyedihkan. Sepanjang perjalanan hanya air mata menetes.

Ia merasa gagal sebagai ayah. Gagal melindungi putri bungsu yang amat dicintainya. Ia membayangkan sakit perih luka bakar putrinya itu. Ia tidak tahan membayangkannya. Itu dua tahun lalu.

Hari ini Gibson ayah Trinity bersyukur bisa mengantar anaknya ke Bandara Soekarno-Hatta

“Doakan bapak di Afrika sehat-sehat biar bisa cari uang buat kesembuhanmu ya nak. Good bye my little angel. Kepakkan sayapmu di sana ya nak,” bisik Gibson sekali lagi menahan isaknya sambil melepas Trinity dan istrinya ke ruang check in.

Gibson ayah Trinity tidak bisa mendampingi anaknya operasi di RS Sun Yat Sen, Guangzhou, China. Ia harus berangkat esok ke Afrika Selatan. Ia baru saja diterima bekerja sebagai teknisi workshop di salah satu pertambangan Afrika Selatan.

“Trinity mungkin sekitar dua bulanan di Guangzhou lae,” balas ayah Trinity ketika saya tanya berapa lama dirawat.

Ahh.. Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca. Bocah kecil ini membuat saya terdiam. Tidak sanggup membayangkan masa-masa penderitaan yang harus dialaminya.

Trinity sudah menjalani 28 kali operasi. Tiga kali sudah operasi di China. Hampir dua tahun Trinity bolak-balik operasi. Hari-harinya penuh operasi dan suntikan.

Hebatnya Trinity tidak pernah mengeluh. Ia tidak marah menanyakan mengapa Tuhan membiarkan dirinya terbakar saat Ia dan teman-temannya sedang di rumah Tuhan? Di mana Tuhan saat itu?

Trinity dengan keanggunannya malah bercita-cita menjadi dokter mata. Ia ingin menjadi dokter mata. Mamanya baru saja operasi tumor di kepala. Sekitar 4 bulan lalu di RS Siloam Karawaci.

“Mamak.. Aku mau jadi dokter mata.. Biar bisa sembuhkan mata mamak”, ujar Trinity sambil mencium mamanya sesaat sebelum dioperasi.

Tumor di kepala itu menekan syaraf matanya. Hingga tidak bisa melihat normal. Seharusnya Trinity berangkat operasi 4 bulan lalu. Tetapi mamanya harus operasi tumor di kepala. Kini penglihatannya sudah baikan. Trinity bisa ditemani ke China.

Trinity dan Alvaro adalah anak korban kebiadaban teroris yang begitu jahat. Teroris yang tidak punya hati perasaan ini meneriakkan nama Tuhan untuk membunuh dan menghabisi nyawa anak-anak kecil yang tak berdosa ini.

Intan dan Olivia, teman Alvaro dan Trinity, telah tewas dua tahun lalu. Sementara Trinity bocah 4 tahun ini harus menanggung derita seumur hidupnya.

Kedua jari tangan Intan tidak bisa berfungsi normal lagi. Jemarinya lengket dan kaku. Kulit jemarinya terbakar hingga tidak bisa elastis seperti jemari normal.

Teroris itu merasa sedang berjuang di jalan imannya. Berjalan di jalan perjuangan ideologi kebenciannya. Ia merasa pemenang.

Tapi Alvaro dan Trinity bukanlah anak pecundang. Trinity dengan senyum polosnya sanggup menelan badai kebencian teroris itu. Trinity mengampuni kejahatan biadab teroris itu.

Ia tidak peduli luka bakar itu telah membuatnya seperti monster. Ia tidak peduli wajah dan kaki serta tangannya nampak aneh. Baginya, hidup adalah perjalanan untuk mencintai dan mengasihi. Apapun kondisinya.

Sebelum berpisah Trinity menyanyikan lagu kesukaannya. Ayahnya senang sekali.

“Kingkong badannya besar.. Tapi kakinya pendek..lebih aneh binatang bebek lehernya panjang kakinya pendek.. Haleluya.. Tuhan Maha Kuasa.. Haleluya Tuhan Maha Kuasa”

Ahh.. Trinity.. Betapa kamu mengajari kami orang yang mudah mengeluh ini tentang arti perjuangan ya. Tentang apa itu keikhlasan. Tentang apa itu pengampunan. Tentang apa itu kesetiaan meski menderita.

Doa dari saya selalu menyertaimu ya sayang.. Semoga di Guangzhou operasimu lancar dan sukses ya.

Bagi teman-teman seperjuangan yang ingin berbagi kasih kepada Trinity bisa mengalirkan kasihnya di bawah ini, langsung ke rek Ibu kandungnya Sarina Gultom.

No. Rekening BCA 0272694263
Sarina Gultom

Jika ingin transfer berikan kode tiga angka terakhir 199. Misalnya transfer Rp100.000 menjadi Rp100.199.

Terimakasih untuk semua getaran welas asih yang Saudara berikan kepada Trinity. Kiranya Tuhan Yang Maha Pengasih membalas kemurahan hati Saudara semua.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

 

Catatan:
Humas Paritas Institute sebatas mempublikasikan kisah ini. Jika Saudara ingin berbagi berkat dan doa, lakukan saja seturut panggilan hati nurani Saudara. Salam Perdamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *