Kristin Komalasari Patigu: Rindu Suara Adzan

POSO, ParitasInsitute.org — Pengalaman bersama kawan yang berbeda agama sudah saya alami sejak saya lahir. Orang tua: mama dari kristen kemudian jadi Islam terus kembali lagi ke Kristen ketika bertemu dengan papa, saya hidup bersama mereka yang beragama islam sejak kecil sampai mempunyai sahabat yang sangat saya kasihi. Kami berteman sangat baik, sampai-sampai ketika teman saya pergi untuk mengaji saya juga ikut pergi mengaji, pengalaman yang paling saya tidak bisa lupa yakni diajari doa makan dalam doa Islam.

Saya bersekolah di sekolah negeri yang mayoritas Islam dan di kelas hanya saya yang beragama Kristen. Ketika mata pelajaran agama saya mengikuti kelas agama itu dan belajar Agama Islam di antaranya menulis tulisan Arab dan yang menjadi herannya ketika diperiksa saya yang mendapat nilai terbaik. Ini sangat membanggakan terlebih ketika diapresiasi oleh guru, dan diberi tepuk tangan dari teman-teman kelas.

Peristiwa lain yang sangat membekas bersama kawan muslim yakni ketika puasa dan lebaran, saya juga mengikuti teman untuk berpuasa dan ketika lebaran saya juga ikut lebaran jalan-jalan ke rumah teman, keluarga dan tetangga. Namun kemudian kebersamaan saya dan kawan muslim menjadi hilang ketika peristiwa isu-isu adanya kerusuhan di Bungku dan kami pindah dari Bungku yang tepatnya di Wosu ke Tonusu. Ketika di sana kami hidup di kalangan orang Kristen dan suasanannya menjadi berbeda, menjadi asing dan menjadi tidak lagi akrab seakrab bersama teman-teman muslim.

Di sini saya mulai menyadari bahwa sesungguhnya saya sangat merindukan teman-teman Islam. Kemudian ketika di SMP saya bersekolah di Malei Lage. Di sana mayoritas orang Islam. Saya sangat senang bahwa ternyata saya kembali bersama mereka yang walaupun mereka masih baru bagi saya, namum satu yang saya rindukan yakni ketika mendengar suara Adzan saya sangat terharu karena kerinduan saya selama ini sudah terjawab dengan kembali mendengar suara Adzan.

Dari semuanya ini saya menyimpulkan bahwa ternyata kedekatan antarumat beragama yang sudah seperti keluarga dapat menimbulkan rasa rindu yang sangat mendalam. Ini tidak dapat dipungkiri jika mungkin peristiwa hari ini, di tempat ini (KEMAH KAMPUNG DAMAI) juga dapat menimbulkan rasa kerinduan yang mendalam, jika kita memaknainya sebagai sebuah pertemuan yang dapat membangun kesadaran toleran antarumat beragama. “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila kita tetap rukun dalam keberagaman perdamaian”.

#KemahKampungDamai
#RevolusiMental
#PenggerakPerdamaian

Pewarta: Wahyuningtyas Woro
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *