Putri Tama Sari: Berhati Malaikat

POSO, ParitasInsitute.org — Saya memiliki teman yang bernama Audi Tifani Humenda. Dia beragama Kristen. Saya berteman dengannya sudah satu tahun dan hanya dialah teman saya yang beragama Kristen. Saat Natal, dia memanggilku untuk makan ke rumahnya. Awalnya ragu dan saya mengatakan itu kepada Audy satu kali. Kemudian dia kembali mengajak saya makan dengan mengatakan bahwa keluarganya tidak suka makan babi dan daging yang dimasak juga bukan daging babi. Tetapi tetap saya menolaknya dengan alasan yang sama.

Untuk menghormatinya saya hanya makan satu ketupat (tanpa lauk pauk) dan mengambil satu kaleng minuman soft drink. Setelah waktu, hari, bulan, tahun berganti dan giliran saya yang merayakan hari raya (Lebaran Idul Fitri) saya memanggilnya ke rumah untuk makan. Dia tidak menolaknya dan dia menyantap makanan kami dengan lahap. Setelah dia selesai makan, dia memberikan saya pertanyaan.

“Putri, ini adalah hari rayamu, dan Hari Raya untuk umat muslim. Aku menghargainya. Aku tidak menolak saat kamu menyuruh makan, bukan? Mengapa saat hari rayaku kau tidak menyentuh sedikit pun makanan kami. Kamu selalu mengatakan bahwa kau menghargai dan menghormati kami, tetapi kenyataannya, kau salah, kau bohong. Jika memang agamamu adalah agama damai, buktikanlah!”

Lalu Audi keluar dari rumahku dengan ucapan terimakasih dengan muka sedih dan kecewa. Posisi saya saat itu, antara takut, kebingungan, dan panik. Saya tidak tahu bagaimana cara membuktikan bahwa saya menghormatinya.

Menurut saya, dia telah mengormati dan menghargainya. Setelah kejadian ini, saya menceritakan kepada ustad (says lupa namanya). Pokoknya saya menceritakan. Kemudian Pak Ustad menyuruh saya untuk memanggil Audi ke teras rumah Pak Ustad. Dia tidak menolak, kami berjalan menuju rumah Pak Ustad . Setelah sampai Audi diberikan bahwa apa saja yang dilarang oleh Islam, dan Audy mendengarkannya. Dari situ, Audy mengerti tentang Islam dan larangannya. Kemudian dia meminta maaf kepadaku, dan saya pun sebaliknya meminta maaf kepadanya. Di situ saya mengerti bahwa sebagian dari mereka (agama Kristen) adalah orang-orang berhati malaikat.

Berbeda-beda tetapi tetap satu dalam perdamaian.

Pewarta: Wahyuningtyas Woro
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *